Kategori
Kesehatan

Cara Memakai Masker Scuba yang Benar dan Efektif Menangkal COVID-19

Masker scuba merupakan salah satu masker favorit yang banyak digunakan orang di Indonesia. Modelnya yang beragam serta mudah ditemukan menjadikan masker scuba sering digunakan oleh masyarakat.

Dengan banyaknya peminat dari masker scuba, tentunya anda perlu mengetahui cara memakai masker scuba yang benar agar efektif meminimalisir penyebaran virus corona.

Dilansir dari situs IDTODAY.CO, masker scuba tidak efektif dalam mengatasi penularan COVID-19 karena terbuat dari bahan yang sangat tipis.

Dengan bahan yang hanya terdiri dari satu lapisan saja, dapat membuat droplet terpecah menjadi lebih kacil sehingga droplet menjadi lebih mudah terbang (airbone).

Bagi anda yang memiliki banyak masker scuba, tak perlu khawatir. Ada cara untuk memakai masker scuba yang benar dan efektif.

Ada sebuah akun Twitter yang bernama @ismailfahmi membagikan cara memakai masker scuba agar efektif menangkal penyebaran virus corona.

Selain membagikan cara memakai masker scuba yang efektif, ia juga mempraktekkan pengujian masker scuba satu lapis dan masker scuba berlapis.

Pengujian Pertama : Menggunakan Satu Lapis Masker Scuba

Sumber gambar : Twitter @ismailfahmi

Pada uji coba yang pertama, ia menggunakan masker scuba satu lapis, lalu mencoba meniup api korek gas yang ada dihadapannya. Hasilnya, api dari korek gas itu pun padam setelah ditiup sekuat tenaga.

Mengapa hal tersebut terjadi? Itu dikarenakan masker scuba terbuat dari bahan yang cukup tipis dan sifatnya yang elastis sehingga pori-pori dari masker scuba dapat melebar.

Oleh karena itu, masker scuba satu lapis masih memungkinkan virus untuk masuk melalui saluran pernapasan.

Dikutip dari penelitian ilmiah jurnal ACS Nanoi, dituliskan bahwa masker harus terbuat dari bahan yang mementingkan filtrasi terhadap partikel-partikel yang sangat kecil untuk menangkal masuknya virus.

Pengujian Kedua : Menggunakan Masker Scuba Berlapis

Sumber gambar : Twitter @ismailfahmi

Pada pengujian yang kedua, ia mencoba melapisi masker scuba tersebut menggunakan 2 lembar tisu untuk mencegah partikel-partikel yang lebih kecil masuk.

Setelah itu, ia melakukan hal yang sama seperti pengjian pertama, yaitu meniup api korek gas yang ada di hadapannya. Hasilnya, ternyata api korek gas tersebut tidak langsung padam ketika ditiup.

Penambahan lapisan tisu ini disinyalir dapat mengoptimalkan penyaringan terhadap partikel-partikel yang lebih kecil, sehingga partikel tersebut sulit untuk menembus lapisan masker dan tisu.

Berdasarkan pengujian tersebut, dapat disimpulkan bahwa cara memakai masker scuba yang benar dan efektif meminimalisir penyebaran virus corona adalah dengan melapisi masker scuba dengan tisu.

Meskipun terasa sedikit ngap danmengganggu ketika digunakan, tetapi hal ini bisa dijadikan sebagai alternatif saat anda tidak memiliki masker medis atau masker kain dua lapis lainnya.

Mendapat Beragam Respon Dari Netizan

Uji coba penggunaan masker scuba yang telah ia bagikan mendapat beragam respon netizen pada kolom komentarnya. Selain merespon dalam bentuk pertanyaan, ada juga netizen yang berbagi pengalamannya menggunakan masker scuba dengan lapisan tisu. Respon ini dilakukan agar pengguna masker scuba bisa menggunakannya dengan efektif.

“Terima kasih, ini alternatif yg sgt cerdas. Problem dg masker medis skli pakai: volume sampah & kelangkaan bgi tenaga medis (klo msker medis dburu masyarkat). Harusnya masker scuba rangkap & masker kain 3 lapis + tissue bs jadi alternatif. Sambil trs menumbuhkan kesadaran bermasker.”

Ucap akun @wibawacti

“Diselip tisu kayak gini mas. Sejauh ini berhasil buat saya”

Beber akun @zulilulelo

“ternyata selama ini gue lapisin tissue berlapis lapis ada lumayan benernya”

Imbuh akun @nabilahhanas
Kategori
Kesehatan

Bagaimana Penanganan Kelainan Skoliosis? Begini Caranya

Salah satu jenis penyakit tulang yang banyak diderita oleh orang lain yaitu skoliosis. Skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang berciri melengkung ke samping atau membentuk seperti huruf S ataupun C.

Kelainan pada tulang belakang ini dapat diderita oleh segala usia, tetapi pada umumnya diderita oleh remaja yang memiliki usia 10 hingga 15 tahun atau sebelum anak menginjak masa pubertas.

Sampai sekarang, belum diketahui pasti penyebab dari skoliosis. Namun, skoliosis bisa terjadi akibat adanya efek kecelakaan, kebiasaan buruk dalam beraktivitas, atau bisa jadi karena riwayat keluarga.

Beberapa kebiasaan buruk yang bisa memicu skoliosis seperti duduk dengan gaya kaki menyilang, menyimpan dompet di saku celana, atau memakai tas model selempang.

Awal kemunculan skoliosis biasanya ditandai dengan gejala-gejala, seperti bahu tampak tidak rata, tulang bahu, tulang rusuk, atau pinggul yang terlihat lebih timbul di satu sisi.

Selain itu, ada juga gejala-gejala lain, seperti tulang belakang yang terlihat melengkung atau condong ke satu sisi, pakaian yang tidak pas dengan ukuran badan, hingga merasakan nyeri pada bagian punggung.

Skoliosis mulanya bersifat ringan dan tidak mengganggu kegiatan. Tetapi, jika dibiarkan begitu saja, maka kemungkinan akan bertambah parah, bahkan bisa mengakibatkan kelumpuhan.

Tidak hanya itu, skoliosis juga dapat menyebabkan tulang rusuk mengganggu fungsi jantung dan paru-paru, sehingga menyebabkan jantung tidak bisa memompa darah dengan maksimal, serta mengganggu sistem pernapasan.

Oleh karena itu, kita tidak boleh meremehkan masalah kelainan tulang ini, apalagi sampai terdiagnosa menderita penyakit skoliosis.

Bagaimana Penanganan Kelainan Skoliosis?

Dibutuhkan penanganan dan penyembuhan yang benar agar kelainan tulang belakang ini tidak menyebabkan dampak buruk. Menurut beberapa ahli fisiologi dan anatomi, terdapat 2 metode yang dapat dilakukan untuk menangani dan menyembuhkan skoliosis, yaitu:

Terapi Non-Operasi

Terdapat dua metode terapi non-operasi yang bisa dilakukan untuk menangani dan menyembuhkan skoliosis, yaitu menggunakan penyangga tulang atau brace dan latihan fisik menggunakan alat fisioterapi yang dapat mengurangi rasa nyeri.

Brace atau penyangga tulang belakang bisa berguna untuk mengoreksi lengkungan pada tulang belakang, utamanya pada penderita skoliosis yang mempunyai lengkungan tulang diatas 30 derajat.

Bagi anda yang merasa khawatir jika penggunaan penyangga tulang ini digunakan selamanya bisa bernafas lega, karena setidaknya penderita skoliosis hanya perlu menggunakan brace selama 2 tahun saja sebagai patokan.

Operasi

Cara kedua yang bisa digunakan untuk menyembuhkan skoliosis adalah dengan melakukan operasi. Tetapi beberapa ahli fisiologi dan anatomi tidak merekomendasikan metode ini, selama metode non-operasi masih bisa dilakukan.

Salah satu hal yang mengharuskan penderita skoliosis untuk dioperasi adalah jika mengalami skoliosis yang disebabkan oleh faktor riwayat keluarga atau karena faktor kecelakaan. Akibat dari faktor kecelakaan, tulang vertebrata si penderita akan rontok, sama seperti penderita skoliosis yang berasal dari bawaan lahir, sehingga harus dilakukan tindakan operasi.

Langkah operasi ini harus dilakukan dengan segera, karena skoliosis bisa menjalar dan menyebabkan munculnya penyakit lain, seperti Hernia Nukleus Pulposus (HNP), infeksi paru-paru, hingga serangan jantung.

Itulah 2 cara atau metode dalam penanganan kelainan skoliosis. Terlepas dari kedua metode penanganan tersebut, pencegahan penyakit tetaplah menjadi pilihan terbaik.

Untuk mencegah kelainan tulang belakang ini, hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk , seperti duduk dengan gaya kaki menyilang, menyimpan dompet di saku celana, atau memakai tas model selempang serta menjaga berat badan tetap bagus dan ideal.